Luas wilayah DKI Jakarta adalah sebesar 661,52 Km2. Dengan jumlah penduduk yang terdaftar pada tahun 2010 sebesar 9,61 juta jiwa dan jumlah rumah tangga mencapai 2.242.352 KK. Jumlah total jumlah penduduk harian Jakarta yang sebagian akan menjadi beban pelayanan utilitas public hingga saat ini diperkirakan mencapai 12,5 juta jiwa.
Dalam dasawarsa terakhir, kondisi pertumbuhan kota sudah semakin melewati daya dukung lingkungan. Mitigasi dan adaptasi terhadap resiko bencana ekologi perkotaan merupakan keharusan bagi masa depan dan berkelanjutan Jakarta.
Masalah lain yang dialami Jakarta lainnya adalah ancaman banjir/rob, kekeringan, pencemaran, penurunan muka tanah, dan penyabaran penyakit melalui air. Data lama menyatakan 40%(265 Km2) wilayah DKI Jakarta beberapa pada elevasi di bawah muka air laut pasang(1-1,5 M). Dan baru sekitar 17% (115 Km2) dari luas DKI Jakarta yang telah terlayani polder untuk pengendalian banjir/genangan.
DKI Jakarta memiliki 13 sungai dan 43 situ/waduk yang hampir semuanya dalam kondisi rusak dan tercemar. Dari permasalahan yang terjadi di Jakarta saat ini setidaknya 8 akar masalah, yaitu :

  • Limbah dan pencemaran lingkungan
  • Banjir dan pengelolaan sumber daya air
  • Krisis energy dan ekstraksi sumber daya air
  • Kebutuhan tempat dan pengelolaan ruang
  • Kelangkaan air bersih dan kelangkaan sanitasi
  • Transportasi, kemacetan lalu lintas dan polusi
  • Emerging displace dan pandemic
  • Kebutuhan dan krisis pangan

Dari 8 akar masalah tersebut merupakan dampak dari tingginya pertumbuhan populasi yang terjadi di Jakarta. Dari sekian banyak permasalahan, kebutuhan warga Jakarta terhadap air adalah yang paling banyak menjadi penyebab masalah di Jakarta. Air merupakan masalah serius lingkungan yang dihadapi oleh Ibu Kota Jakarta. Total kerugian akibat banjir 2002 & 2007 mencapai US$ 2,2 milyar. Pencemaran air oleh limbah cair menyebabkan hampir seluruh sungai tercemar berat dan berdampak pada kelangkaan air baku dan air minum yang pada tahun 2010 sudah deficit 11,185L/OT dengan hanya 44% cakupan layanan. Hal ini juga menyebabkan kerugian ekonomi mencapai ± IDR 43,3 Triliun/tahun.

Masalah utama pengelolaan sumber daya air di DKI Jakarta.
• Air baku
Kualitas dan kuantitas air yang terus menurun
• Air bersih
Cakupan layanan air masih sangat rendah, kebocoran realtif tinggi (±45,05%), air baku semakin kritis, tariff rata-rata semakin tinggi (7.431/m3), kualitas air yang masih belum layak minum.
• Air tanah
Karena rendahnya cakupan layanan PAM, menyebabkan ekstraksi semakin tinggi. Kemampuan recharge semakin rendah, dan kualitas air dangkal tercemar limbah cair.
• Air limbah
Cakupan layanan sangat rendah, sarana dan prasarana sangat minim dan pencemaran terhadap badan air permukaan & air tanah semakin tinggi.
• Penurunan muka tanah
Menambah potensi daerah genangan air, banjir dan rob. Penurunan elevasi system drainase (makro & mikro) sehingga mengurangi fungsi pematusan atau drainase kota.

Upaya mencari solusi terpadu dan berkelanjutan.
• Target pengelolaan sumber daya air terpadu provinsi DKI Jakarta.
• Membuat siklus pengelolaan air Jakarta menuju 2030.
• Konsep terowongan multi fungsi.
• Strategi konservasi air tanah di wilayah DKI Jakarta tahun 2010 – 2030.
• Alternative konsep Sea landfill regional teluk Jakarta.