“Bola sebagai alat pemersatu bangsa” itu yang sering kita dengar. Seluruh lapisan masyarakat turut berpartisipasi mendukung timnas Indonesia setiap bertanding. Dari berbagai  kelompok seporter rela datang ke stadion, berdesak – desakan untuk menyaksikan perjuangan Timnas Indonesia.  Persija dengan warna oranye, Arema dengan warna biru, dan Persebaya dengan warna hijau.  Namun, seperti saat diselenggarakan piala AFF  semua warna itu “melebur” menjadi dua warna, warna kebanggaan Indonesia, MERAH PUTIH. Sepakbola secara tidak langsung mempersatukan rakyat Indonesia.

Namun saat Piala AFF telah usai kelompok supporter kembali kepada klub masing – masing, apakah rasa persatuan yang kita rasakan pada Piala AFF masih ada? Semua itu seolah hilang. Mereka kembali terkotak – kotak dalam sebuah pendukung klub sepak bola daerah masing – masing , harapan melihat tim kesayangan menang terkadang justru menimbulkan semangat yang negative, emosi lebih dikedepankan terlebih saat tim yang didukungnya kalah. Mereka tidak segan menyerang kelompok supporter lain untuk melampiaskan kekesalannya. Yang lebih memprihatinkan lagi saat dalam perjalanan menuju ke stadion, sepanjang perjalanan ada saja ulah sebagian supporter . tawuran dengan warga yang notabene tidak ada sangkut pautnya dengan pertandingan sepakbolapun sering terjadi.

Kalau sudah begini siapa yang mesti dipersalahkan?. Tidak perlu mencari siapa yang salah, mari kita introspeksi diri masing – masing . Selanjutnya mau dibawa kemana persepakbolaan Indonesia. Sesuatu yang baik harus diawali dengan yang baik dan dengan cara yang baik pula. Suatu impian yang mulia bagi bangsa ini. Sepakbola untuk PEMERSATU BANGSA, demikian harapan besar para pecinta bola Nasional.